Advertisements

Kumpulan puisi Penyair Indonesia Dalam Memperingati Tsunami Di Aceh

Monday, December 26th 2016. | Kata Puisi, Kata Ucapan

Kumpulan puisi Penyair Indonesia Dalam Memperingati Tsunami Di Aceh

kata puisi, kata ucapan Kumpulan puisi memperingati tsunami – Pada kesempatan kali ini admin statusgombal.com akan membagikan bebefrapa informasi mengenai Kumpulan puisi Penyair Indonesia Dalam Memperingati Tsunami Di Aceh. Hari ini, dua belas tahun lalu, 26 Desember 2004, gempa dahsyat yang diikuti tsunami menghantam Aceh. Ratusan ribu orang menjadi korban. Dua belas tahun silam,  Nanggroe Aceh Darussalam mengalami tragedi yang dirasa begitu kelam, duka mendalam mewarnai tangisan, canda tenggelam diganti oleh deru jeritan, histeris menangis keceriaan pun terkikis, disaat bumi Serambi Mekkah nyaris tersapu habis oleh kebesaran Allah yang memberikan cobaan kepada umatnya sebagai salah satu peringatan, bumi bergoncang menggetarkan tanah merata, pasang gelombang meratakan yang dilaluinya bergelimpangan ratusan ribu umat manusia, nyawa melayang hanya dalam waktu sekejap saja. Nah, untuk mengenang mereka yang pergi bersama tsunami, admin statusgombal.com akan membagi serangkaian puisi tentang tsunami berikut ini :

IBUKU BERSAYAP MERAH

Ibu, Abah dan Dik Nong
setelah bala aku pulang ingin melihat
kalian dan kampung

kukira 26 desember cuma mimpi buruk
tapi tak kutemukan kalian di sana,
juga Arif kecil yang cerewet

seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
berubah menjadi laut yang raya

lihat Ibu ada bangau putih
berdiri dengan sebelah kaki di bekas kamarmu
bangau itu tak bersayap merah
seperti dulu pernah kauceritakan padaku

karena aku tahu bangau itu telah memberikan sayap
merahnya buatmu
agar kau peluk Abah dan Dik Nong ke dalamnya

ZIARAH SUNYI

Apakah makna sebuah pertemuan?
Sekilas cahaya di langit kelam.
Mengerlip sesaat sebelum gugur waktu.
Kita, seperti sebuah musim berputar.

Sejarah, dimanakah ia bisa bertahan?
Dalam sebaris puisi dan do,a lirih.
Atau sebuah prosa yang tak pernah selesai.
Juga kata, yang tak sempurna dituliskan.

Mengenangkanmu apakah nian maknanya?
bagiku, yang tersisa dari perjalanan masygul
saat ombak-badai membawamu pergi begitu saja.
Lautan, begitu dalam menyimpan rahasia Tuhan.

Di sudut rumah kita yang telah menjelma samudra
kita pernah bergumul dalam hidup yang sengit
sampai sejarah melemparkanku ke negeri asing
sementara engkau bertahan menuntaskan pertarungan.

Kini aku menyapamu lewat bait-bait syair kelu
sebagai do,a bagi ziarahku yang getir dan kelabu
semoga engkau mendengar gumam kalbuku
di atas kota kita yang menyimpan luka lautan.

Tak akan kucari lagi jejak sejarah kita yang indah
di atas puing, potret yang pecah dan reruntuhan kota
atau di atas lumpur yang tak berdaya menyimpan
kenangan.
Tak akan kucari lagi, karena engkau telah abadi dalam
do’a.

SURAT-SURAT

surat-suratmu telah hanyut
jauh sebelum sabtu pekat itu
menjadi gelombang yang menenggelamkan
huruf-huruf dan jejak tanganmu

aku hanya menemukan kertas kosong
terselip dalam lipatan arloji
menyembul saat malam larut
dan orang-orang nyenyak

cuma sketsa tipis, lamat-lamat
menyeruak lalu senyap
tanganku gemetar untuk menulis kembali
huruf-huruf itu
juga jejak tanganmu

AIR MATA ACEH

Mendengar namamu saja
Sudah menitik air mata
Sebab, sepanjang sejarahmu adalah luka

Pada masa Cut Nya
Peluru Belanda mengharu birumu
Pada masa merdeka
Peluru GAM dan serdadu melukai dadamu
Pada tubuhmu yang lunglai
Orde baru menyedot sumsum tulangmu
Dan kini gempa dan tsunami
Meluluh-lantakkanmu

Mendengar namamu saja
Sudah menitik air mata
Kerena tiap tarikan nafasmu
adalah derita

Pada mayat-mayat yang berserakan
Kutorehkan sajak-sajak pedihku
Namun semilyar kata pun
Tak cukup mencatat tangismu

DZIKIR ANAK LAUT

aku dengar semalam suntuk derumu yang pilu menyeru anak laut berdzikir
Kepada daratan, kota-kota di dunia karena mereka tak pernah tidur dan lupa
Tak ubahnya seperti balita terpedaya oleh boneka
Ternyata laut juga punya kuasa

Aku dengar dari lantai empat ratus delapan puluh dua
Kau berteriak pada malam yang tak pernah dijamu kepasrahan tajajjud kota-kota yang angkuh
Sepuh sehingga pagi harus menanggung beban gelombang itu pun teramat santun

Aku dengar datatan kota-kota pagi itu tiba berdzikir
Anak-anak laut berteriak menjemput kematian dalam sujud mereka yang panjang
Menghempang maut dan terseret di pintu-pintu terbuka rahim ibu mereka di daratan
Yang pongah itu tak sanggup menghalangi langkah gaib tsunami kematian sebegitu dekat
Dengan nafas magma larva hitam
Tak ada jalan lain dari kematian yang menyeringai doa-doa
Kehilangan mukjizatnya
Takdir harus dipercaya hari itu karena telah mengunci setiap jiwa
Aroma kematian semakin mesra mendekapnya

Aku melihatmu ketika itu perahu berada tepat di ujung kakiku
Berdiri seperti seekor teri
Jaring-jaring api bergelombang dalam saf-saf maha panjang
Kengerian muncul di barisan belakang

Itulah beberapa Kumpulan puisi Penyair Indonesia Dalam Memperingati Tsunami Di Aceh semoga bermanfaat.

Advertisements
tags: ,